Subscribe Us

Responsive Advertisement

Advertisement

MERDEKA

 

Struktur masyarakat industri telah menyeret kesadaran manusia kepada dependensi institusional. Masyarakat selalu memadankan pendidikan dengan “sekolah”, pelayanan kesehatan dengan rumah sakit, mobilitas pribadi dengan frekuensi aktivitas, dan sebagainya. Fenomena ini terjadi ketika kebutuhan-kebutuhan non-material dalam spektrum masyarakat kapitalis telah diubah menjadi permintaan terhadap barang.

Sekolah seolah menjamin masyarakat untuk berpendidikan. Ini merupakan suatu bentuk pelembagaan nilai yang tidak memanusiakan. Konsekuensinya, polusi fisik, polarisasi sosial, dan ketidakberdayaan psikologis akan terjadi. Label-label sosial diciptakan dalam kerangka hubungannya dengan lembaga “sekolah”.

Faktanya, kewajiban bersekolah di suatu negara dan pencapaian pelaksanaannya dalam masyarakat dijadikan sebagai salah satu indeks kemajuan negara. Masyarakat dibagi ke dalam kutub-kutub berseberangan yang dalam konteks global menciptakan kasta sosial.

Padahal, menurut Ivan Illich, sekolah sama sekali tidak mengembangkan kegiatan belajar atau mengajarkan keadilan. Sebab sekolah lebih menekankan pengajaran menurut kurikulum yang telah dipaket untuk memperoleh sertifikat, yang dijadikan legitimasi dalam pasar kerja.

Kasta dan “Candu” Lembaga

Sekolah telah menjadi lembaga yang dibangun dengan asumsi bahwa kegiatan belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar. Tak pelak, guru dianggap sebagai pengawas, “pengkhotbah”, sekaligus ahli terapi untuk memberi petuah-petuah moral. Perannya pun tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga hakim yang seolah memegang kendali masa depan pebelajar.

Kehadiran sekolah juga telah membatasi usia seseorang dengan tingkat pendidikan yang dapat diikutinya. Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan orang tua dibagi dan dipaket dengan strata pendidikan tertentu. Seorang anak harus melewati konflik yang tak manusiawi ketika diharuskan masuk dalam sekolah. Terlebih, kini anak didik “dipaksa” untuk menghabiskan waktunya di lembaga ini.

Sekolah telah menjadi “candu” bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan. Ketergantungan terhadap sekolah telah memasukkan individu ke dalam struktur mekanis yang bising dengan aturan-aturan dan (terkadang) diselimuti bisnis. Padahal, pendidikan sejatinya bertolak pada motivasi pribadi untuk belajar, serta adanya ketersediaan akses dan sarana bagi semua orang yang ingin belajar dan mengajar.

Kebebasan yang Memanusiakan

Perlu disadari, pendidikan sebenarnya berpusat pada upaya pemanfaatan jaringan-jaringan sumber belajar secara maksimal. Perpustakaan, laboratorium, museum, teater, pabrik, dan sebagainya harus dibuka luas bagi pebelajar. Sistem yang kusut segera diurai, sehingga jasa referensial yang dimilikinya dilepas untuk kepentingan pendidikan.

Peserta didik juga diberi kesempatan untuk memperluas hubungan sosial. Mereka tidak hanya dihimpun di sekolah, tetapi diberi kesempatan pula untuk menjalin kontak dengan lingkungan sosial yang memiliki kecenderungan yang serupa. Di sinilah makna penting dari belajar; sebuah pembiasaan yang tak menuntut setiap anak "terkurung" di lembaga formal.

Mitos tentang sekolah yang berperan terlalu dominan dan mendikte kehidupan manusia wajib digugurkan. Otoritas pendidikan tidak hanya dimiliki oleh sekolah, tetapi juga berada dalam setiap sisi kehidupan. Karena itulah, pendidikan sejatinya dapat dilakukan kapan saja, di mana saja dan oleh siapa saja.

*Gambar diambil pada tahun 2014, saat penulis "belajar" di "Qaryah Thayyibah"; komunitas belajar yang berada di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga, Jawa Tengah

 


Post a Comment

0 Comments

FAHRUDDIN FAIZ